Ruko Di Kawasan Ampel & Kembang Jepun
Ditulis oleh Anitha Silvia | 08 Juli 2020



Jalan Sasak pukul 08.00, toko-toko kitab dan songkok belum buka, atau mungkin tutup sementara selama masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diperpanjang sampai 8 Juni 2020 di Surabaya. Sudah tiga bulan sejak pemerintah Indonesia mempublikasikan kasus pertama COVID-19 di Indonesia.

Toko-toko tersebut bersemayam di bangunan dua lantai dengan arsitektur rumah toko yang populer dengan akronim ruko. Sebagai arsitektur vernakular yang dibawa ke kota-kota pelabuhan di Nusantara oleh perantau dari China bagian Selatan pada abad ke-19 (atau mungkin jauh sebelumnya), ruko menjadi salah satu penanda kawasan kota lama Surabaya.

Salah satu bagian dalam buku karya Abidin Kusno, Visual Cultures of the Ethnic Chinese in Indonesia, bertajuk The Shophouse, membawa saya kembali mengamati ruko di kawasan Ampel dan Kembang Jepun, kota lama Surabaya.  

The studies (by Johannes Widodo and Handinoto) indicate that ruko originated from the southern coast of China and then travelled to the region by way of cultural diffusion following the migration of early Chinese pioneers. The later development of this form of building is also linked to the phenomenon of socio-spatial segregation in the colonial city consolidated the “Chinese districts” and, therefore, territorialized the ruko. By the nineteenth century, the ruko had become an emblematic architecture associated with the diverse Chinese population of the region (Kusno, 2016: 51).

Bangunan ruko di kawasan Ampel tersebar di titik-titik perdagangan di sepanjang Jalan Nyamplungan, Jalan Sasak, Jalan KH Mas Mansyur, dan Jalan Panggung. Ampel sebagai kawasan komunitas Hadramaut terbesar di Indonesia, merangkul ruko sebagai bagian keseharian di ruang publik, tidak lagi hanya milik komunitas Tionghoa.

Ruko di sepanjang jalan Sasak dibangun awal abad ke-20 masih bisa dinikmati fasadnya meskipun dengan mudah terlihat lantai atas yang terbengkalai, berdiri bersebelahan dengan ruko kontemporer (era 1980an – 2000an) yang memiliki lebih dari tiga lantai. Dengan deretan ruko, jalan Sasak memang dirancang sebagai public arcade yang mendorong pejalan kaki untuk belanja selepas beribadah di Masjid Ampel. Sayangnya trotoar sempit yang dibangun (mungkin pada tahun 90an) tidak mengikuti bangunan ruko membuat jalan Sasak didominasi oleh kendaraan bermotor bukan pejalan kaki.

Referred to as a “ruko”, the Indonesian shophouse is a vernacular architectural building type commonly seen in urban South East Asia and predominately associated with ethnic Chinese settles in the region. Typically it consists of a shop on the ground floor, which opens up at the front to a public arcade known as a “five-foot way” (kaki lima) and has residential accommodation upstairs (Kusno, 2016: 45).

Saya lanjut berjalan kaki menuju jalan Kembang Jepun dengan deretan ruko berlanggam art-deco dan kontemporer era 1980an. Pecinan Surabaya tidak hanya ditandai dengan gerbang dengan tulisan Kya-kya di ujung timur dan barat Jalan Kembang Jepun, tapi juga dengan bangunan ruko yang masih berfungsi di Jalan Panggung, Jalan Songoyudan, Jalan Gili gang I-V, Jalan Kalimati Kulon, Jalan Kalimati Wetan, Jalan Dukuh, Jalan Samudra, Jalan Slompretan, Jalan Bongkaran, dan Jalan Karet.   



Bangunan ruko di kawasan Pecinan Surabaya bisa dibilang lebih “asli” ketimbang di kawasan Pecinan Jakarta dan Semarang. Tentu saja tidak hanya saya yang mengecam pemerintah kota Surabaya atas “perubahan” ruko di Jalan Panggung. Kenyataannya sekarang kebanyakan ruko di Pecinan Surabaya tidak lagi sebagai rumah dan toko, lantai atas menjadi gudang atau dibiarkan terbengkalai, hanya lantai dasar sebagai toko.  

By the 1980s, many of these late colonial art deco ruko (in Semarang) were in a state of ruin or being demolished, replaced by a new form of ruko covered by billboards. Despite changes in external appearance, throughout colonial and postcolonial history, the ruko continues to represent the streetscape of main streets and a market sphere dominated by ethnic Chinese (Kusno, 2016: 52).

Saya baru menaruh perhatian kepada ruko saat berjalan kaki di Kuala Lumpur, Penang, dan Singapura pada tahun 2016 ditambah membaca buku Penang Shophouses yang diterbitkan oleh Areca Books. Ruko menjadi national heritage di Malaysia dan Singapura, tidak di Indonesia, meskipun saya menemukan satu jalan di pusat Kabupaten Siak (Provinsi Riau) dengan deretan ruko yang dijadikan situs penting kabupaten tersebut (sayangnya situs ini terbakar pada Februari 2018, saya mengunjungi Siak di akhir September 2017).

The ruko is perceived as a historical artifact in other parts of South East Asia, notably in Singapore where it has been conserved (after large-scale destruction) as part of the national heritage and tourist industry. However, in the Indonesian architectural establishment, the ruko has not been treated as an important building type. Instead, it is more often viewed as a source of agony and a building form that lacks the entitlement to be included under the rubric of “heritage”. It is a building type that both masks and discloses the unsettling history of the ethnic Chinese in Indonesia (Kusno, 2016: 45-46).

Kami sudah memasukkan ruko yang berada di jalan Kalimas Timur dan jalan Panggung dalam Pertigaan Map – Chinese Quarter. Tambah penasaran untuk observasi bangunan ruko yang tersebar di tiga kawasan di kota lama Surabaya.