Tentang Kawasan Jembatan Merah
Tulisan dan Foto oleh Anitha Silvia | 27 Februari 2021

Gambar 1. Pasar di sepanjang Jalan Kebalen Barat, Kelurahan Krembangan Utara, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya Utara

-Selamat Datang
“Selamat datang kepada para tamu. Silakan duduk. Mohon maaf kami hanya bisa menyiapkan seadanya.”, ucap Pak Ji menyambut kedatangan beberapa pelanggannya dengan menggunakan microphone dan dua salon pengeras suara.

Pak Ji adalah suami Ibu Pita, mereka berdua mengelola warung kopi (warkop) sejak awal tahun 1990an di muka gang Dapuan Bendungan III yang berhadapan langsung dengan pasar pagi di sepanjang Jalan Kebalen Barat. Ibu Pita menyajikan ketan dan minuman panas dan dingin. Pak Ji bertugas kora-kora (mencuci gelas) dan menghibur pelanggan dengan daftar lagu dangdut klasik, kadang-kadang dia bernyanyi dengan microphone.

Saya duduk-duduk minum kopi hitam bersama satu keluarga besar yang sedang menikmati sarapan sego pecel sambil minum es teh di kursi-kursi kayu panjang yang disediakan Pak Ji. Satu keluarga besar ini terdiri dari nenek, ibu dan ayah, 4 anak, 1 paman, dan 1 keponakan. Si Ibu dan Si Ayah tak berhenti menggoda Ibu Pita dan Pak Ji yang kelimpungan melayani pelanggan.

“Ini namanya Warkop Bojo Galak.”, ucap Si Ibu kepada saya. Kata “bojo” merujuk ke Pak Ji. Kata “galak” merujuk Ibu Pita yang selalu tegas berbicara dengan suaminya dan pelanggannya. Si Ibu dengan jilbab panjang dan cadar berwarna merah marun sibuk memastikan pesanan sego pecel untuk keluarga besarnya sambil terus menggoda pasangan pemilik Warkop Bojo Galak. Si Ayah yang berkacamata tebal sambil menggendong bayi perempuannya sahut-sahutan dengan Si Ibu melontarkan becandaan mengenai warkop ini. Mereka berdua bagaikan kopi dan ketan, pasangan klop.

Warkop Bojo Galak menjadi salah satu titik kumpul warga Kampung Dapuan dan pedagang pasar di pagi hari. Warkop ini menyediakan empat kursi kayu panjang di dalam gang. Para manula yang mendapat makanan catering dari pemerintah kota Surabaya berkumpul di sini untuk mengambil haknya sambil bertukar kabar dan gosip. Di warkop ini warga juga bertukar informasi mengenai tetangga yang sakit, kelahiran, kematian, dan razia masker sambil menikmati pasar dengan lagu-lagu dangdut pilihan Pak Ji.


-Hari Minggu
Hari Minggu di pasar-pasar rakyat tingkat kelurahan seperti pasar di sepanjang Jalan Kebalen Barat di Surabaya Utara ini adalah hari tersibuk untuk pedagang. Pengunjung pasar ramai dari selepas Subuh sampai lewat pukul 10.00. Pedagang memenuhi Jalan Kebalen Barat, berlapis-lapis lapaknya, hanya menyisakan 1-2 meter untuk pengunjung yang berjalan kaki. Kepadatan jalan ini berbanding terbalik dengan bangunan pasar dua lantai yang berada di persimpangan Jalan Kebalen Barat dengan Jalan Pasar Babadan.

Hari Minggu juga memberi wajah yang ramah dengan kehadiran pasar TP Pagi di sepanjang Jalan Pahlawan, mengitari Tugu Pahlawan dan bangunan Bank Indonesia karya F. Silaban. Namun, hari Minggu sepanjang bulan Februari 2021, pasar TP Pagi dan dua pasar terbuka lainnya, yaitu pasar malam Kodam dan pasar kaget Masjid Agung (Al-Akbar) tidak boleh digelar oleh pemerintah kota Surabaya dengan alasan menimbulkan kerumunan di masa pandemi. Sementara itu, mall-mall tetap beroperasi.

Hari Minggu ini meskipun ada larangan untuk menggelar pasar TP Pagi, para pedagang mengakali dengan berjualan di gang-gang sekitarnya, seperti di gang selatan Bank Mandiri, Jalan Pasar Turi, dan Jalan Kemayoran Baru. Sementara itu, pasar Senter—pasar loak yang buka sebelum matahari terbit--yang berada di sepanjang Jalan Pasar Turi tetap digelar seperti biasanya.

Pasar-pasar terbuka yang dikelola mandiri ini adalah urat nadi kota tua Surabaya, sayangnya pemerintah kota Surabaya hanya memakunya dengan bangunan-bangunan kolonial belaka. Pasar-pasar ini bersama dengan kampung-kampung perkotaan di kecamatan Pabean Cantian dan kecamatan Krembangan yang menjadi wilayah kota tua Surabaya, kawasan Jembatan Merah, adalah jantung kota tua Surabaya.

-Pemetaan Pasar
Pemetaan pasar di Kota Surabaya secara mandiri dengan menggunakan OpenStreetMap yang dilakukan oleh Anitha Silvia selama Januari 2020 hingga Oktober 2020 menampilkan 186 pasar yang terbagi dalam 72 pasar yang dikelola oleh pemerintah kota Surabaya dan 114 pasar yang dikelola swadaya oleh warga. Warga disini adalah pengurus RT (Rukun Tetangga), RW (Rukun Warga), LKMK (Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan), atau perseorangan.

Gambar 2. Sebaran pasar di Surabaya (pemetaan oleh Anitha Silvia, tahun 2020) 

Dari 114 pasar swadaya, sebagian besar adalah pasar terbuka. Pasar terbuka atau lebih dikenal di Surabaya sebagai pasar krempyeng adalah aktivitas pasar di area terbuka, seperti lapangan, jalan, dan gang. Pasar terbuka dekat dengan permukiman yang padat dan simpul-simpul kota lainnya, seperti rumah sakit, terminal angkutan umum, dan pabrik. Pasar terbuka memanfaatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami, serta bergerak hanya beberapa jam saja, biasanya di pagi hari. Pasar-pasar terbuka di kawasan kota tua Surabaya terutama di kawasan Jembatan Merah adalah sumber kehidupan di antara bangunan-bangunan kolonial.


Gambar 3. Sebaran pasar terbuka di Surabaya (pemetaan oleh Anitha Silvia, tahun 2020) 

Saya kembali bercerita hari Minggu saya di pasar terbuka di sepanjang Jalan Kebalen Barat. Pasar ini menjadi penghubung kampung-kampung di antara Kanal Krembangan dengan Kali Mas, seperti Kampung Kalimas Barat, Kampung Muteran, Kampung Dapuan Bendungan, Kampung Dapuan Baru, Kampung Pesapen, Kampung Tambak Gringsing, dan Kampung Kebalen. Jalan Kebalen Barat adalah jalan kampung yang lebar dengan konsensus warga untuk tertutup bagi kendaraan bermotor selama pasar berlangsung.

Pasar terbuka di Jalan Kebalen Barat yang ramai pedagang dan pembeli ini kontras dengan bangunan dua lantai pasar Babaan Baru yang sepi pedagang maupun pembeli. Pasar Babaan Baru di ujung timur Jalan Pasar Babaan adalah pasar yang dikelola oleh pemerintah melalui PD Pasar Surya. Pasar Babaan Baru bahkan mempunyai bangunan dua lantai lainnya di timur Jalan Kebalen Timur, dihubungkan dengan jembatan besi yang sudah tidak berfungsi.

Pasar terbuka adalah tradisi perdagangan masyarakat Jawa, tidak akan hilang dengan adanya bangunan pasar, malah punya banyak kelebihan, terutama di masa pandemi ini. Pasar terbuka mudah menerima pedagang-pedagang baru atau pedagang yang berpindah-pindah dengan biaya sewa “ruang” yang terjangkau dibandingkan biaya sewa di bangunan pasar milik PD Pasar Surya. Pasar terbuka disukai oleh pembeli karena terjangkau jaraknya dari rumah mereka (bisa berjalan kaki), sirkulasi udara dan cahaya yang baik, dan tempat bersosialisasi yang aman dan nyaman untuk perempuan.

Pasar terbuka memiliki hubungan yang dalam dan menarik dengan kampung-kampung sekitarnya. Melihat bagaimana warga mengatur pasar, bernegosiasi dengan pemerintah, memikirkan mobilitas pedagang dan penghuni kampung adalah pelajaran yang penting. Fungsi sosial Jalan Kebalen Barat dimaksimalkan.



Gambar 4. Warga Kampung Dapuan Baru berjalan kaki melewati spanduk pemberitahuan kepada para pedagang pasar dan pengunjung pasar untuk tidak menaruh sepeda motor maupun perlengkapan berjualan

-Dua Perempuan
Dua perempuan berjalan kaki dari rumah mereka di Jalan Krembangan Besar menuju pasar di Jalan Kebalen Barat, kami bertemu di bakul lontong kupang. Sarapan lontong kupang menjadi pilihan yang menantang bagi saya, namun bukan bagi warga Surabaya kebanyakan. Pasar di sepanjang Jalan Kebalen Barat ini terbilang spesial karena selain memiliki bakul lontong kupang, juga punya dua lapak sate kerak (sate daging yang disajikan dengan ketan hitam) dan lapak sayur-mayur yang dipetik langsung dari kebun (daun pepaya, pepaya muda, bayam, daun katuk, daun asam). Tidak lupa kopitiam favorit saya juga selemparan batu dari pasar ini, Depot Acu-Aling yang menyediakan menu spesial tiap akhir pekan, laksa.


Gambar 5. Bakul lontong kupang di pasar di Jalan Kebalen Barat

Perempuan memenuhi jalan dan pasar ini sebagai pedagang, pembeli, dan tukang kredit. Dengan memakai masker dan pakaian yang nyaman dengan warna-warna yang mencolok, mereka menikmati pagi hari yang melimpah matahari di musim penghujan. Sambil menyantap sepiring lontong kupang, saya melihat bekas kawasan Eropa ini dengan mata yang berbeda dari lima tahun lalu saat memulai projek Pertigaan Map, seger!