Catatan Berjalan
Tulisan dan Foto oleh Celcea Tifani | 27 Juni 2021


Gambar 1. Berbagi fungsi sebagai tempat parkir sepeda motor (yang sebagian besar tenaga listrik) dan tempat bermain Mahjong oleh warga paruh baya di Shanghai. Hal yang lumrah di Asia, termasuk Surabaya.

Melantangkan adanya pilihan berjalan kaki sebagai salah satu moda transportasi yang seringkali dianggap, moda yang dipilih karena terpaksa.

Surabaya yang saya kenal dari sejak Taman Kanak-Kanak sampai mungkin sekitaran usia remaja adalah Surabaya yang nampak dari dalam mobil atau dari dalam kaca helm yang seringkali terantuk kalau naik sepeda motor di siang bolong waktu pulang sekolah dengan teman atau kakak saya dari kawasan Raya Darmo sampai ke Darmo Satelit, perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 20 menit (masa itu lalu lintas Surabaya masih belum begitu padat, padat hanya pada jam pergi dan pulang kerja). Kalau dicermati, kekerabatan saya dengan ruang kota hanya sebatas singgah di titik A, lalu naik sepeda motor atau mobil dan tiba di titik B. Terjadi demikian dan berulang, setiap hari, bertahun-tahun.

Orang indonesia pada dasarnya tidak suka jalan kaki, karena ‘Toh ada mobil’ atau ‘Sumuk get, numpak peda ae lo’ (Panas, lebih baik naik sepeda saja) sudah menjadi kebiasaan yang memang tidak bisa disalahkan (namun bisa dipertanyakan). Invasi produk mobil dan motor buatan jepang di tahun 80an di Indonesia menyerukan kenyamanan berkelana dengan kendaraan bermotor sebagai moda transportasi yang ideal di negara tropis, (opo bener?) dan pengenalan awal ini keterusan, sampai hari ini.

Kedekatan saya dengan sebuah kota, dan macam-macam isinya, trotoar dimana saya berjalan setiap hari, bangunan yang kokoh, toko yang ramah, angin yang lewat, menjadi lebih intim, karena berjalan kaki. Perjalanan yang tadinya hanya terdiri dari dua titik, A dan B. Sekarang diantaranya bertumpang tindih, memenuhi legenda peta berjalan saya.


Gambar 2. Misteri bau wangi di jalanan Shanghai (tidak seklenik bau melati) setiap musim gugur tiba, terjawab saat tetangga saya memetik bunga kecil warna orange ini untuk dibawa pulang sebagai pengharum alami, Osmanthus.

Hari ini terhitung kurang lebih 8 tahun sudah lamanya saya merantau. Tinggal di beberapa negara dan kota yang berbeda, dengan intensitas penduduk, kondisi geografis, politik, sosio-ekonomi dan banyak lain-lainnya yang berbeda. Melalang buana sendiri menciptakan kebiasaan untuk mengenal lingkungan sekitar dengan sebaik mungkin, tindakan preventif kalau-kalau ada keadaan yang tak terduga terjadi, tahu dimana untuk cari pertolongan atau paling minimal, tahu harus berbuat apa. Berjalan kaki mengitari kawasan tempat tinggal adalah tindakan awal dari adaptasi yang menurut saya signifikan dalam mengenali sebuah kawasan dan ini mungkin sudah jarang dilakukan banyak orang karena jalan kaki dianggap kurang bonafit.


Gambar 3. Salah satu yang membantu saya dalam berjalan di kota Shanghai adalah, adanya penanda mata angin dan panjang jalan di setiap rambu nama jalan. (M) merujuk pada Middle, karena tidak jarang dengan nama yang sama, jalanan di Shanghai panjangnya bisa mencapai lebih dari 2km.

Adanya fitur dan aplikasi peta digital memang sangat memudahkan aktifitas berjalan, praktis, dalam genggaman. Tapi, bagaimana kalau ternyata wilayah baru ini tidak berbahasa ibu, tidak mengijinkan google nampak di layar hp, tidak mengenal abjad latin, seperti pada saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Shanghai, Cina. Aksara Cina tergolong minim evolusinya, menggunakan banyak nama yang secara fonetik terdengar mirip, sungguh sulit untuk diingat. Intonasi dalam berbahasa cina memegang peranan sangat penting, intonasi berbeda, merujuk pada makna yang berbeda. Didukung hal-hal di atas, semakin cintalah saya dengan peta fisik, papan petunjuk arah, himbauan jalanan, dan tentunya interaksi dengan warga sekitar, dan rekomendasi-rekomendasi mereka.

Jalan kaki menjanjikan ketibaan buat saya. Pada saat bis ataupun kereta cepat bawah tanah membantu sebuah kota disebut modern dan memangkas waktu tempuh, terkadang menunggu mereka menimbulkan kecemasan, kepanikan kalau-kalau terlambat sampai tujuan. Jalan kaki memberikan jawaban yang tidak lebih baik, lebih santai saja namun pasti.

Suatu sore sekitar 5 tahun yang lalu di pertigaan Jalan Raya Kupang Barat, ada spanduk besar yang kurang lebih menutup separuh dinding bangunan tusuk sate di depan, bertuliskan “Awas Pertigaan! Kurangi kecepatan”.