-
TENTANG
KOTA TUA
SURABAYA

Berusia lebih dari 726 tahun, Surabaya dengan mudahnya bercerita sejarah panjangnya melalui nama-nama jalan, bangunan-bangunan, dan warganya. Pada tahun 1900, Surabaya adalah kota pelabuhan tersibuk dan paling modern di Hindia Belanda. Sekarang sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, penduduk Surabaya mencapai 3 juta jiwa dengan luas wilayah 326,81 km2. Kota pelabuhan yang memiliki sinar matahari sepanjang tahun, menghadap ke Laut Jawa dan Selat Madura, muara Sungai Brantas.

Tata ruang kota-kota kolonial di Jawa, termasuk Surabaya, terutama sebelum abad ke-19 selalu dipisahkan menurut etnis. Pemisahan ini disahkan oleh undang-undang (Wijkenstelsel 1836-1917), yaitu untuk orang Pribumi. Eropa, dan Timur Asing. Surabaya masa itu dibagi berdasarkan etnis, menciptakan Europe Quarter, Chinese Quarter, dan Arab Quarter, sekarang disebut sebagai kawasan Jembatan Merah, Pecinan, dan Ampel. Pasca-kemerdekaan batas-batas ini menghilang dan pola pemukiman menguat berkembang berdasarkan kelas sosial, seperti yang dipaparkan oeh Freek Colombijn.

A common idea in Indonesian historiography is that colonial society was divided by ethnic differences. Ethnic divisions were reflected in the residential pattern: indigenous people lived together in kampongs; Chinese and Arabs in the Chinese and Arab quarters; and Europeans in the elite neighborhoods. After independence these ethnic-spatial divisions faded, while a new residential pattern based on social class was established: well-to-do lived with well-to-do and the poor with the poor (Colombijn, 2010: 13).

Kota Tua Surabaya di Surabaya Utara--pusat kota di era pendudukan Belanda--memiliki narasi yang mendalam dan beragam, mulai dari Tanjung Perak hingga Pasar Atom. Surabaya sebagai kota kerja nyata dilihat melalui bangunan perkantoran dua tingkat berlanggam kolonial tropis di Jalan Rajawali dan Jalan Jembatan Merah, truk yang sibuk bongkar muat barang di Jalan Kembang Jepun, buruh perempuan yang sigap bekerja di Pasar Pabean, dan puluhan kelas pekerja di sebuah warung kopi di Pasar Ampel.

-
TENTANG
PERTIGAAN
Kawasan Kota Tua di Surabaya Utara yang sibuk tapi terabaikan berusaha kami dokumentasikan dengan medium peta berjalan kaki. Proyek peta ini bertajuk Pertigaan Map, tiga peta berjalan kaki yang melihat Kota Tua Surabaya sebagai narasi dari tiga kawasan utama yaitu kawasan Jembatan Merah, Pecinan, dan Ampel.  

Pertigaan bergerak di pusat kota, central business district dengan kategori daerah Kota Lama. Wilayah ini adalah kota lama dalam arti pusat-pusat pemerintahan, perdagangan, dan juga pelabuhan. Secara administratif, masuk dalam kecamatan Pabean Cantian, kecamatan Krembangan, kecamatan Semampir, dan kecamatan Simokerto. Pertigaan Map mengajak Anda untuk berjalan kaki menikmati Kota Tua Surabaya melalui arsitektur, kuliner, sejarah, desain vernakular, dan kehidupan sehari-hari warga.

Proyek mandiri ini dikerjakan oleh Anitha Silvia dan Celcea Tifani dengan dukungan warga setempat dan banyak kawan sejak Januari 2016. Pertigaan Map versi pertama diluncurkan pada tanggal 29 Juli 2016 dalam empat format; peta fisik, pameran, tur berjalan kaki, dan road talk. Pertigaan Map versi kedua mulai dikerjakan Maret 2020 dan akan terbit Juli 2020.


-
KAWASAN
JEMBATAN
MERAH

Pemerintah kolonial Belanda membangun kota bergaya barat di sebelah barat Kali Mas, berada di daerah Krembangan, perkampungan pribumi. Sebanyak 54 kampung dari 192 kampung yang dihuni oleh penduduk lokal digusur, tersisa 138 kampung, disulap menjadi kawasan berstandar Eropa. Belanda membangun kota yang modern dengan bangunan kokoh berlantai dua, jalan-jalan yang besar, modern public transportation (tram), sanitasi dan penerangan untuk kegiatan pemerintahan, perdagangan, dan tempat tinggal orang Eropa, the European Quarter.

Kawasan Jembatan Merah saat ini memiliki ratusan bangunan kolonial yang masih bertahan setelah proses nasionalisasi perusahaan Belanda dan perubahan nama jalan sebagai bentuk dekolonisasi tahun 1950an. Sebagian besar bangunan kolonial masih berfungsi sebagai bank, barak militer, kantor perusahaan perkebunan negara, kantor polisi, kantor ekspedisi, pabrik roti, gudang, museum, sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, sisanya terbengkalai dibiarkan kosong atau disewakan per petak menjadi tempat tinggal yang murah bagi para pendatang. Arsitektur kolonial tropis mendominasi wajah kawasan Jembatan Merah. Pemukiman padat menempel di punggung gedung-gedung kolonial, kampung Krembangan, kampung Kalongan, kampung Kemayoran, kampung Pesapen, dan kampung Kebalen.

-
KAWASAN
PECINAN

Masyarakat Tionghoa sudah ada di Surabaya sejak tahun 1411 menempati kawasan selatan Kali Pegirian, di timur Kali Mas. Pemukiman etnis Tionghoa tumbuh pada akhir abad ke-17 dan mengalami perkembangan yang signifikan pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Mereka menempati kampung Songoyudan, Panggung, Pabean, Slompretan, Bibis. Pecinan Surabaya adalah salah satu Chinese Quarter terbesar di Indonesia, namun sekarang karakteristik arsitektur Cina memudar dengan terbengkalainya atau hilangnya fungsi rumah-toko (shophouse).

Selain sebagai rumah tiga klenteng, Chinese Quarter dari era kolonial hingga sekarang menjadi pusat perdagangan garmen, housewares, stationary, hasil laut, rempah-rempah, gula, dan hasil bumi lainnya, didukung dengan puluhan kantor perbankan dan ekspedisi. Pecinan Surabaya benar-benar sibuk, mulai dari Jalan Kembang Jepun ke Pasar Pabean, Pasar Bong, Pasar Kapasan, sampai Pasar Atom.

-
KAWASAN
AMPEL

Awal abad ke-19, Surabaya memiliki komunitas Indo-Hadrami terbesar di Hindia Belanda di Ampel, kampung Arab kuno. Pendatang dari Yaman (Hadramaut) tinggal di sekitar pelabuhan Kali Mas untuk berdagang sekaligus menyiarkan agama Islam jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa di Surabaya. L.W.C van den Berg menuliskan bahwa akhir abad ke-18 menandakan keberhasilan para Sayid Hadramaut dalam berintegrasi dengan jaringan kekerabatan lokal. Bersama komunitas Melayu, Bugis, dan Minangkabau, komunitas Sayid Hadramaut membentuk jalinan kultural hibrida di Nusantara. Para sayid Hadramaut bertindak sebagai penasihat bagi para penguasa, ulama, pedagang, bajak laut.


Koloni Arab di Surabaya adalah koloni Arab terbesar di Hindia Belanda hingga sekarang, menempati pulau di antara Kali Mas dan Kali Pegirian. Tidak hanya keturunan Hadramaut saja, tetapi para pendatang dari India, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Madura, dan pedalaman Jawa, yang adalah para pelaut sekaligus pedagang memenuhi kampung Ampel. Kampung Arab kuno ini hingga sekarang sangat hidup karena komunitas Indo-Hadrami dan kelompok muslim lainnya tinggal dan bekerja di sana, bergerak 24 jam sehari dengan beragam aroma, warna, dan suara. Kekayaan budaya dengan mudah kita rasakan saat berjalan melalui ratusan gang yang menarik di Arab Quarter.

-
PROFIL

Anitha Silvia (1983)
Seorang pejalan kaki dan pegiat budaya yang memiliki perhatian di musik, budaya visual, dan isu perkotaan. Sejak 2011 menjalankan dua program berjalan kaki dibawah c2o library & collabtive, Manic Street Walkers dan Surabaya Johnny Walker. Tahun 2012 bersama Wok The Rock mendirikan Indonesian Netaudio Forum. Lima tahun terakhir menjadi manager dari sebuah grup musik, Silampukau. Sepuluh tahun terakhir berpengalaman mengerjakan festival di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Tokyo. Sejak 2016 bersama Celcea Tifani mengerjakan projek panjang pemetaan Kota Lama Surabaya bertajuk Pertigaan. Mulai tahun 2020 menjadi managing director sebuah kolektif seni berbasis di Surabaya, Kwangsan Kunstkring.


Celcea Tifani (1991)
Desainer grafis yang memiliki ketertarikan kuat di pendekatan rasional dan peran kelima indera dalam proses mendesain. Percaya bahwa desain grafis hanyalah salah satu kanal ekspresi dan solusi pemecahan masalah sehari-hari yang sudah seharusnya bersinggungan dengan disiplin ilmu dan praktik lain. Dua tahun belakangan ini sedang menekuni teknik cetak saring dan berpartisipasi di Art Book Fair Shanghai dan Beijing. Saat ini Celcea menjabat sebagai Associate Design Director di biro desain, Paper Stone Scissors yang berbasis di Australia dan Cina.